Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

SEJARAH KELURAHAN NOLOGATEN

Posted by Admin 20.33, under , |

Pada saat terjadi Geger Pecinan pada tahuan 1740 yakni pecahnya keributan antara orang Tionghoa dengan Belanda yang menjalar dari Batavia ke Jawa Tengah, Kraton Mataram yang beribukota di Kartasura mengalami kekacauan. Paku Buwono II tidak dapat mengatasi kerusuhanan yang timbul akibat adanya aliansi antara bangsawan oposan dengan para pengusaha Cina. Sunan Paku Buwono terpaksa mengungsi ke Ponorogo.

Dan pada tahun 1742 Beliau Sinuwun Paku Buwono II akhirnya kembali dari Ponorogo dan menyaksikan kehancuran istana Kartasura. Hal ini dikemudian hari yang kemudian menjadi bahan pertimbangan perpindahan Kraton Kartasura ke Surakarta.

Sementara itu salah seorang pendherek Sinuwun Paku Buwono II berkehendak untuk tidak ikut kembali ke Kartasuro karena ingin menetap di Ponorogo Beliau adalah Kyai Nologati yang selanjutnya bertempat tinggal dan menetap di timur Pasar Legi hingga meninggal dan dimakamkan di timurnya pasar, utaranya kantor Bhakti sekarang. Kyai Nologati kemudian dikenal sebagai sosok yang babad pertama diwilayah yang ditinggali hingga akhir hayatnya tersebut. Kemudian daerah tersebut dinamakan Nologaten yang artinya tempatnya (Kyai) Nologati.

Sebelumnya Kelurahan Nologaten terbagi menjadi 3 dusun, yaitu:

1.Dusun Krajan
Utaranya Jl. Hayam Wuruk (sekarang Jl. KH. Ahmad Dahlan). Mulai dari Pasar Legi (sekarang Pasar Songgo Langit) ke timur hingga Bunderan, lalu ke utara. Utaranya Bunderan ada Gerdhu yang sangat angker/wingit dinamakan Gerdhu Mayit sebab di sana tempat peristirahatannya mayat yang akan di bawa ke rumah sakit. Rumah sakit pada zaman dahulu berada di Gedung Pembatik kemudian pada tahun 1918 pindah di Keniten. Gerdhu itu dibuat pada zaman Bupati Marto Hadinagoro tahun 1837 – 1984, kemudian dipugar pada zaman Bupati Sumadi tahun 1979 – 1984.

2.Dusun Durisawo
Yang mengawali adalah Kyai Tosawo. Kyai Tosawo dan kyai-kyai di bawahnya merupakan ahli tasawuf dan ahli tarikoh. Santrinya tidak hanya pemuda-pemuda saja tetapi banyak juga dari orang tua sekitar Durisawo, Nologaten sebelah utara.

3.Dusun Bedreg
Dinamakan Bedreg sebab di sana banyak pohon bedreg. Zaman Bupati Lider 1856 – 1882 di Bedreg merupakan tempat pacuan kuda yang pesertanya dari seluruh lurah atau diwakilkan pada warga desa tersebut. Pacuan kuda tersebut memperebutkan hadiah sapi dan peralatan untuk pengerjaan sawah(garu, luku, pacul dsb.)

Pada zaman Bupati Dasuki tahun 1960 – 1967 mengawali pembuatan stadion. Tempatnya sudah diratakan dengan traktor, dalam pembuatan itu ada korban murid SD kelas IV tergilas oleh stoomwals. Kemudian rencana membuat stadion dihentikan. Pembangunan diteruskan oleh Bupati Sumadi hingga selesai dan diresmikan pada tanggal 20 Mei 1976 dengan nama stadion Bathoro Katong.

Pada zaman Bupati Drs. Soebarkah Putro Hadiwiryo (1984 – 1989) mendirikan kolam renang di sebelah timur stadion yang dinamakan Tirto Suromenggolo. Di depannya dibangun tempat menyimpan air yang berbentuk seperti sumur dengan tinggi sekitar 20m dan terbuat dari beton. Ini dinamakan bak raksasa untuk melayani air minum wilayah kota Ponorogo.

Sumber :
1. Purwadi, 2008. KRATON SURAKARTA Sejarah, Pemerintahan, Konstitusi, Kesusasteraan dan Kebudayaan. Yogyakarta: Panji Pustaka
2. R.Purwowijoyo. Babad Kandha Wahana.


Nama-nama Lurah yang pernah memimpin pemerintahan di Kelurahan Nologaten adalah:
1.…..
2.…..
3.Rejomunawi
4.Sastro Suwarno
5.Kusnu Subroto, SH.
6.Samuri
7.Imam Basori, S.Sos, MM.
8.Yusub Dharmadi J, S.STP.

Euforia Ramadhan-Syawal

Posted by Admin 08.49, under |


Selalu ada pemandangan luar biasa yang terulang setiap tahun ketika memasuki bulan Ramadhan dan Syawal dalam kalenderisasi islam. Saat Ramadhan datang tiba-tiba segenap muslim ramai-ramai memenuhi surau, musholla, langgar dan masjid-masjid. Bukan hanya puasa wajibnya saja, berbagai amal ibadah pun banyak ditunaikan siang dan malam. Saking semangatnya pengeras-pengeras suara terus “mengumandang” ditengah larut tidur malam masyarakat. Dari perspektif sosiologi, bulan ramadhan terbukti telah mampu memobilisasi masyarakat untuk berduyun-duyun memenuhi rumah-rumah ibadah dan menciptakan komunikasi sosial di dalamnya sehingga nampak semangat kerukunan dan kebersamaan warga. Menjelang masuk bulan syawal atau lebih tepatnya menyambut idul fitri, kesibukan masyarakat pun bertambah erburuan baju baru pun dimulai, rumah-rumah diperbarui catnya, mebelair dan perabot mulai dibersihkan, bahkan tidak sedikit yang “ngoyo” beli kendaraan baru, beli alat elektronik baru yang kesemuanya itu begitu dahsyat menggerakkan roda perekonomian. Bayangkan bila setiap orang muslim dalam menyambut “lebaran” membutuhkan dana sedikitnya 200 ribu rupiah, berapa uang yang telah berputar dari kurang lebih 200-an juta penduduk muslim Indonesia.Kehadiran bulan syawal sebagai penutup bulan ramadhan, selalu disambut dengan suka cita seolah obat kesedihan kepergian bulan ramadhan. Mungkin sudah sepantasnya demikian, Karena bukan saja perayaan religi atas kemenangan setelah usaha keras kita menggembleng diri dalam bulan ramadhan, tetapi juga fenomena “suka cita sosial” dimana terjadi mobilisasi sosial berjuta manusia dengan semangat mengobati penyakit “rindu kampung halaman” yang berarti pula keinginan untuk bertemu dengan teman, keluarga atau bahkan musuh lama sekalipun, sekedar memulihkan hubungan yang lama tak tersambung dan keinginan untuk mengetahui perkembangan tempat dimana masa pra dewasa dihabiskan. Namun bagi mereka yang “tidak kemana-mana” dan setia membangun kampung halamannya, tetap saja perasaan itu sama seolah masa lalu itu hadir dalam masa kini. Maka jangan heran momen lebaran sering digunakan sebagai sarana temu kangen, bahkan tidak sedikit yang membingkainya dalam kegiatan yang disebut sebagai “Silaturahmi halal bihalal” keluarga ataupun komunitas lain semacam alumi tertentu sebuah sekolah atau universitas, mungkin inilah letak unik idul fitri.

Dibalik semua euforia itu kita tentu menyadari sebagai pribadi, secara sosial akan selalu membutuhkan orang lain dalam melakoni kehidupan sehari hari, baik itu dalam keluarga, hidup bertetangga ataupun hidup dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Selain mengabdi kepada sang Khalik (hablum minallah) manusia juga harus ber-hablum minannas. Saat kita melanggar perintah Alloh kita memohon ampun dan bertaubat kepada-nya atas dosa yang kita perbuat itu. Namun saat kita menyalahi satu anak adam, kita tidak cukup hanya beristighfar dan bertaubat memohon ampunanNya karena dosa kepada sesama manusia harus kita selesaikan dulu dengan manusia yang bersangkutan hinggga ia meng-halalkan atas kita apa yang telah kita perbuat kepadanya. Oleh karenanya ketika idul fitri tiba, saat semua yang kita kenal (orang yang berpeluang besar kita salahi) berkumpul, menjadi momen yang sangat baik untuk menunaikan hak-hak adami tersebut. Dengan kesadaran bahwa dalam menjalankan fungsi sosial kita tidak dapat menjadi manusia sempurna yang selalu bisa membahagiakan manusia sekitarnya maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak ikhlas memberi dan memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan. Agar fitrah kesucian dan kemenangan yang menjadi harapan kita dalam doa minal aidin wal faizin, insya Alloh mampu kita capai.

Kemenangan di bulan syawal ini juga hendaknya menjadi tonggak peringatan bagi kita untuk terus berinstropeksi diri agar senantiasa meningkatkan iman dan ketaqwaan kita dari sisi religi serta meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian kita dalam menempatkan dan membawakan diri dalam lingkungan sosial sehingga kesempurnaan ibadah menuju kebaikan dunia akherat dapat terwujud. Semoga Alloh mempertemukan kembali kita dengan bulan ramadhan dan syawal tahun depan. “Taqaballahu minna wa minkum” semoga alloh menerima amal kebajikan kita dan “minal aidin wal faizin” semoga kita termasuk dalam kelompok yang kembali dalam fitrah kesucian dan semoga kita tergolong dalam kelompok yang meraih kemenangan. Amin.


Pengumuman

Pengumuman



Silahkan dimanfaatkan kesempatan untuk memperoleh AKTE KELAHIRAN yang MURAH bagi warga yang pencatatan kelahirannya terlambat.

Mulai tanggal 2 Januari s/d 31 Desember 2011 Dinas Dukcapil Kabupaten Ponorogo telah melaksanakan kegiatan DISPENSASI PELAYANAN PENCATATAN KELAHIRAN bagi penduduk yang lahir Tahun 2006 ke bawah (2006,2005,2004 dan seterusnya)

Persyaratan dan blanko permohonan dapat diunduh disinii
Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi RT setempat

Katalog Arsip